When Children Lead Their Learning: Project-Based Learning at PG-K GIS 3 Jogja

Yogyakarta – Playgroup-Kindergarten Global Islamic School 3 Yogyakarta (PG-K GIS 3 Jogja) memiliki banyak model pembelajaran. Selain pembelajaran tematik, pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning/PBL) juga diterapkan.

PBL bertema “Little Hand, Big Ideas” diselenggarakan pada Senin, 19 Januari–Rabu, 28 Januari 2026, sebanyak 67 siswa Kindy-2 PG-K mempresentasikan karya yang telah dirancang sejak bulan Desember 2025. Nantinya, tiga kategori terbaik akan diberi penghargaan berupa plakat dan voucher toko buku. 

Ruang Belajar yang Menghidupkan Peran Siswa

Project-Based Learning adalah model pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran. Jadi, siswa tidak hanya diam dan menerima pelajaran, tetapi mereka lah yang berperan aktif dalam menentukan aktivitasnya.

Potret siswa-siswi Kindy-2 sedang menyimak presentasi PBL teman-temannya
Potret siswa-siswi Kindy-2 sedang menyimak presentasi PBL teman-temannya (Dokumentasi Tim Humas GIS 3 Jogja)

Model pembelajaran ini mengasah siswa untuk berpikir kreatif dan inovatif dalam memecahkan permasalahan sehari-hari melalui perancangan suatu produk. Melalui PBL, siswa belajar memaknai pengalaman belajar sebagai perjalanan yang bermakna.

Menapaki Proses, Merayakan Karya

PBL merupakan sebuah perjalanan panjang bagi siswa. Keseluruhan prosesnya tidak selesai dalam satu dua hari, tetapi sejak satu bulan sebelumnya ketika rencana penyelenggaraan PBL dipaparkan kepada seluruh orang tua siswa Kindy-2.

Masa pengerjaan project berlangsung sejak 15 Desember 2025–18 Januari 2026. Dalam jangka waktu itu, siswa diberi kesempatan untuk menuangkan hasil kreasi dan pemikirannya ke dalam sebuah produk.

Setiap siswa mengerjakan dan menyiapkan project-nya di rumah masing-masing, dengan caranya sendiri-sendiri. Orang tua berperan sebagai pendamping yang membimbing tangan-tangan kecil anaknya dalam menciptakan suatu karya. 

Seorang siswa, didampingi ibunya, mempresentasikan proyek dengan menggunakan kostum dokter
Seorang siswa, didampingi ibunya, mempresentasikan proyek dengan mengenakan kostum dokter (Dokumentasi Tim Humas GIS 3 Jogja)

Melibatkan orang tua untuk membimbing pengerjaan project siswa di rumah membentuk lingkungan belajar yang suportif, kolaboratif, dan inklusif. Siswa akan merasa didukung dan memahami bahwa pembelajaran tidak berhenti di sekolah.

Setelah proses pengerjaan karya berakhir, siswa mempresentasikan karya mereka secara bergantian. Siswa dibagi ke delapan hari berbeda dan diberi waktu 15 menit untuk melakukan presentasi karya dengan didampingi orang tuanya. 

Ada siswa yang mempresentasikan model sistem pencernaan manusia. Dengan menyuntikkan cairan ke dalam selang sebagai ilustrasi saluran pencernaan, dia menunjukkan perjalanan makanan secara sederhana dan menarik. 

Momen ketika siswa sedang mempresentasikan proyek tentang sistem pencernaan manusia
Momen ketika siswa sedang mempresentasikan proyek tentang sistem pencernaan manusia (Dokumentasi Tim Humas GIS 3 Jogja)

Siswa lain menyajikan karya bertajuk The Soil Filtration Process. Selain membawa produk pembelajaran yang dia rancang, siswa membawa gelas berisi air, tanah, dan kerikil untuk memperlihatkan bagaimana cara kerja tanah dalam menyerap air.

Masih banyak karya lain yang ditampilkan, seperti daur hidup kupu-kupu, proses terjadinya pelangi, dan tata surya. Seluruh karya yang hadir di kelas hari itu merupakan buah dari pemikiran kreatif serta jerih payah siswa.

Saat suatu karya dipaparkan, siswa-siswi lain terdiam, pandangan mereka tertuju penuh pada hasil karya di depannya. Sementara itu, otaknya sibuk mencerna pemaparan, menyusun pertanyaan yang timbul dari pemaparan temannya.

Seorang siswa sedang menjelaskan daur hidup kupu-kupu melalui proyek yang dibuatnya
Seorang siswa sedang menjelaskan daur hidup kupu-kupu melalui proyek yang dibuatnya (Dokumentasi Tim Humas GIS 3 Jogja)

Setiap presentasi selalu membangkitkan rasa penasaran siswa lain. Maka mereka diberi waktu untuk bertanya di setiap akhir sesi presentasi, suatu kesempatan yang mereka manfaatkan dengan antusias untuk melontarkan pertanyaan ke presenter.

Perjalanan panjang PBL diakhiri pada Kamis, 29 Januari 2026 dengan penutupan dan pembagian sertifikat untuk seluruh siswa karena perjuangan dan kerja keras mereka pantas untuk diapresiasi. Seluruh apresiasi ini, harapannya, bisa memotivasi siswa untuk terus berkarya dan belajar.

Dari Bermain ke Belajar: Proses Kecil dengan Dampak Besar

PBL di PG-K GIS 3 Jogja dapat menciptakan lingkungan belajar yang dinamis dan menarik sehingga pembelajaran tidak terasa membosankan, khususnya bagi siswa usia dini yang masih suka bermain dan bersenang-senang.

Wajah-wajah serius siswa ketika menyimak pemaparan proyek temannya
Wajah-wajah serius siswa ketika menyimak pemaparan proyek temannya (Dokumentasi Tim Humas GIS 3 Jogja)

Pada tahap presentasi, bukan hanya hasil kreativitas yang mereka tunjukkan, tetapi juga keberanian dan rasa percaya diri. Di samping itu, mereka juga belajar menghargai dan mengapresiasi karya milik orang lain. 

Sebagai perwujudan dari Pilar Akademik GIS, PBL diharapkan dapat membentuk generasi masa depan yang berkarakter, mandiri, percaya diri, dan mengenal lingkungan sekitarnya dengan baik. []

Ditulis oleh: Tim Humas GIS 3 Jogja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *